Budget Travel : Japan Trip - Part 2

by - December 19, 2019

Ada nggak sih yang kayak akuuuu.....???
Travelling tahun 2017, nulis tahun 2018, postingnya baru tahun 2019 hahaha...
Kalo kata orang-orang "yaelah udah keburu basi cerita lo!".
Tapi ngga apa-apa guys, mungkin suatu saat nanti ingatanku udah ngga sebaik saat ini, dan saat aku pengen flashback ke trip-trip yang pernah aku jalanin, aku bisa inget lagi setelah baca tulisan ini.
Iya ngga? Please jawab "iya"!


DAY 1

Setelah kurang lebih 7 jam penerbangan, akhirnya sampai juga di Jepang! Dinginnya suhu udara di luar udah mulai terasa di badan tipisku ini. Keluar dari pesawat, aku langsung lari ke toilet buat pake longjhon yang udah aku siapin dari jakarta, tapi ZONK ternyata semuanya aku taroh di koper, yang mana bakalan ribet banget kalo aku harus bongkar-bongkar koper dulu di airport, so it means aku harus bertahan dengan kaos turtle neck, bomber jaket tipis, & celana jeans (iya, celana jeans guys!) yang aku pakai dari Jakarta.

Selesai urusan imigrasi, kita menuju ke Kansai-Airport Station, suhu udara di luar saat itu adalah -5℃ disertai gerimis salju, tangan auto-beku, tapi seneng juga karena akhirnya ngerasain salju asli hahaha.
Dari arrival gate terminal 2 ke Kansai Station ternyata deket banget, cuma perlu naik eskalator sekali ke lantai 2F, lalu tinggal ikutin direction di guide board-nya aja. Sampe di station kita beli ICOCA. ICOCA ini semacam kartu elektronik yang bisa digunakan untuk transportasi (kereta dan bus), bisa juga dipakai untuk pembayaran di minimarket di Jepang. Kalau disini semacam flazz, e-money, tapcash dkk.  Harga ICOCA ini 2000 yen, 500 yen saldo kartu, 1500 yen deposit, jadi saat kalian pulang nanti, kartunya bisa dikembaliin dan kalian dapat refund 1500 yen. Kalau aku sih ngga aku kembaliin lagi, buat kenang-kenangan haha (yha ketauan deh suka menyimpan kenangan~ *loh?)

Icoca Card

Note : Mungkin kalian lebih familiar dengan SUICA atau Pasmo. ICOCA ini fungsinya sama persis sama SUICA dan Pasmo, cuma beda nama aja, kalau beli di Osaka adanya ICOCA, tapi kalau kalian beli di Tokyo biasanya adanya SUICA atau Pasmo (cmiiw).


Osaka to Tokyo

Selesai urusan ICOCA, kita menuju ke Sakai-Station untuk naik bus menuju Tokyo. Sampai di Sakai-Station, kita keluar di West Exit, sesuai dengan keterangan yang tertera di e-ticket bus. Setelah keluar, kita bener-bener ngga ngeliat tanda-tanda pool bus atau semacamnya, kita balik lagi ke stasiun dan nanya ke information center, petugasnya mengonfirmasi kalau memang betul disitu tempatnya. Jadi tempatnya tuh semacam halte bus dan lokasinya ada di lobby mall gitu (hmm..bukan mall juga sih, semacam hall outdoor dan di tengahnya ada beberapa butik dan cafe yang entah mengapa pada saat itu semuanya closed). Ngga ada kursi, ngga ada tempat nunggu, cuma ada tiang dan atap yang mungkin lebarnya sekitar 1x1,5m2. Untungnya, ngga jauh dari halte ini ada 7eleven, jadi kita bisa nunggu disitu.

Waktu itu pukul 18:00, jadwal kebrangkatan bus-nya pukul 20:50, dan kita nunggu sekitar 3jam di dalam sevel. Iya 3 jam di dalem sevel!! Kita milih duduk diem di sevel karena di sekitar situ ngga banyak yang bisa di-explore, salju lagi turun, dan aku masih pake baju tipis + celana jeans yang udah makin nyerep udara di luar. Dingiiin banget bok! 10 menit sebelum jadwal keberangkatan bus, kita memutuskan untuk berdiri di halte. Di sini bener-bener dingin banget sumpah, tapi namanya baru pertama kali kan, takut banget ketinggalan bus. Lima menit berdiri tetep ngga ada tanda-tanda orang lain yang nunggu bus juga, disitu kita benar-benar cemas, akhirnya 3 menit sebelum jadwal bus datang baru deh tuh muncul orang-orang yang pada mau naik juga (entah pada ngumpet dimana sebelumnya). Bus-nya dateng pukul 20:47, sebelum naik ke bus nama kita diabsen & tiket kita dicek dulu, dan pukul 20:52 udah berangkat. Gilakkk bener-bener tepat waktu!

Perjalanan dari Osaka ke Tokyo menggunakan bus memakan waktu kurang lebih 7 jam, termasuk 3-4 kali berhenti di rest area (istirahat sekitar 5-10menit per rest area). Pukul 6.00 kita sampai di Tokyo, tepatnya di Ikebukuro Station West Exit. Dari Ikebukuro, kita menuju ke penginapan. Nama penginapannya adalah Japanize Guset House & Bar, lokasinya sangat dekat dengan Bakurocho Station. Kita sampai penginapan sekitar pukul 07:00, saat itu penginapan belum buka, resepsionis pun belum ada, akhirnya kita cari makan dulu di sekitar penginapan (yap! masih geret-geret koper!).

Tiga puluh menit setelahnya kita balik ke penginapan, dan masih belum ada orang juga heuuu... akhirnya setelah kurang lebih setengah jam kita menunggu (di luar!!), ada seseorang yang datang. Dan ternyata dia adalah owner dari penginapan ini. Ternyata penginapan ini memang buka pukul 10:00, memang sih di receipt booking pun tertulis check in pukul 12:00, cuma ya kita kira dari pagi tetap ada resepsionisnya. Aku dan temanku ngobrol-ngobrol dulu sama si owner ini, karena jam check-in masih lama, setelah itu kita diperbolehkan untuk mandi & taroh barang bawaan kita di dekat receptionist. Selesai mandi, kita beres-beres sebentar (koper tetap kita taruh di dekat receptionist) lalu pergi mengunjungi destinasi-destinasi yang sudah kita list sebelumnya.

DAY 2

Sensoji Temple

Destinasi wisata pertama yang kita datengin di Asakusa adalah Sensoji Temple. Sensoji Temple ini salah satu mandatory place yang harus dikunjungi kalau ke Jepang, aku yakin 90% dari kalian walau ngga tau namanya pasti akan 'ngeh' dan bilang 'ooh...ini!' setelah lihat fotonya. Karena hampir semua orang yang ke Jepang (Tokyo) pasti ke tempat yang ikonik dengan lampion besar berwarna merah di gerbang masuknya ini. Sebelum menuju ke temple utama, kita bakal ngelewatin Nakamise Dori dulu, jalanan ini penuh banget dengan pedagang yang menjual jajanan, souvenir, dan pakaian tradisional jepang.

Entah karena weekend atau gimana, waktu aku kesini tempatnya bener-bener penuh banget. Ngga cuma turis tapi banyak juga warga lokal. Harapan dari Indo buat nyoba ambil Omikuji  di Sensoji Temple pun sirna saking penuhnya tempat ini. Buat yang belum tau, Omikuji itu semacam kertas ramalan yang tersimpan di laci-laci kayu yang ada di Sensoji Temple ini. Jadi dengan membayar 100yen, kita bisa ambil lidi yang sudah ada huruf-hurufnya, kemudian kita cocokkan huruf tersebut dengan laci kayu yang tersedia, di dalam laci itu ada kertas yang menuliskan ramalan, isinya kurang lebih gambaran bad/good luck selama setahun kedepan (cmiiw). Aku sebenernya sih ngga percaya hal kaya gini, tapi lebih ke arah buat seru-seruan aja.

Sensoji Temple dari pintu masuk udah crowded banget 

Lautan manusia di Nakamise-dori

Tetep sempet narsis di tengah keramaian Nakamise-dori

Sensoji Temple


Sumida River & Tokyo Skytree

Setelah puas explore Sensoji Temple, kita menuju ke Tokyo Skytree dengan berjalan kaki. Kalau liat di maps emang jauh banget keliatannya, estimasi waktunya pun 1 jam lebih, tapi waktu itu entah kenapa ngga berasa jauh atau capek. Mungkin karena kita sempet berhenti buat foto-foto dan nikmatin pemandangan di sekitar Sumida River. Aku pribadi sukaaaa banget pemandangan di sekitar Sumida River, tepatnya di dekat Azuma Bashi Bridge.
Dari lokasi ini, kita bisa lihat Tokyo Skytree cukup jelas, dan bisa juga lihat gedung Asahi (Asahi Flame). Asahi Flame ini adalah gedung milik perusahaan beer terkenal di jepang, gedung ini terkenal dengan bentuknya yang unik, yaitu menyerupai gelas dan busa bir berwarna emas di atasnya (walaupun pas lihat gedung ini aku ngga kebayang busa beer sama sekali, malahan aku keingetan awannya Goku di Dragon Ball hahaha...)

Sampai di Tokyo SkyTree, aku yang awalnya excited banget mau foto pemandangan dari atas tower mendadak jadi badmood. Ngga beda jauh sama di Sensoji Temple, Tokyo SkyTree pun penuh banget nget nget. Dan ternyata untuk sampai di Tower paling atas harus membeli tiket dua kali, tiket pertama hanya sampai lantai 4 lalu tiket kedua bisa untuk sampai tower teratas. Dan karena saat itu weekend, harganya jadi lebih mahal. Tadinya kita mau naik sampai ke lantai 4 aja, tapi melihat antrian yang sangat mengular, baterai hp yang mulai sekarat, dan baterai kamera yang mendadak habis, akhirnya duo #sobatmisqueen ini lebih memilih untuk tidak naik ke atas. 

Sumida River View

Narsis lagi di Sumida River dengan background Tokyo SkyTree


Asakusa Rox

Destinasi terakhir di hari ini adalah Asakusa Rox, Asakusa Rox adalah pusat shopping & entertainment di daerah Asakusa. Sebenarnya Asakusa Rox ini nama Mall, tapi karena bangunannya cukup besar dan terkenal, jadinya banyak orang yang menyebut area tersebut sebagai Asakusa Rox (cmiiw). Main street daerah ini buka 24 jam, dan sepanjang jalan dipenuhi oleh turis asing dan turis lokal.

Berbagai macam barang mulai dari barang tradisional sampai barang modern banyak dijajakan disini. Buat ciwi-ciwi yang suka belanja, hayoooo kencangkan sabuk kalian! Terutama buat sobat travel hemat, jangan sampe dompet bocyor! To be honest barang-barang fashion di sini menurutku cukup murah dan kualitasnya juga bukan yang kaleng-kaleng gitu. Contohnya aku dapat sepasang sepatu boots dengan harga 1000 yen aja, atau sekitar 120.000 rupiah pada saat itu.
Oh ya, kalau kalian ke daerah ini, jangan lupa mampir ke Don Quijote. Don Quijote ini semacam toko swalayan di Jepang, sebenernya bisa ditemuin dimana aja, tapi yang di Asakusa Rox ini besar dan lengkap bangetttt! Barang-barang yang dijual sangat beragam mulai dari makanan, snack, aksesoris, pakaian, alat rumah tangga, mainan, kosmetik, bahkan sampai perfume branded sekelas dior dan chanel pun ada di sini.

Asakusa Rox

You May Also Like

0 comments